Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Taman Remaja yang Tak Pernah Tua

Table of contents: [Hide] [Show]
    Oleh Okta

    TAHUN 90-an, mungkin sekitar setahun sebelum tahun milenium. Di tengah kota yang panas, aku pertama kali menginjakkan kaki di sebuah tempat. Mataku terbelalak melihat patung gajah yang seperti nyata. Kulitku diselimuti hawa sejuk di bawah pohon-pohon besar yang rindang. Iya, itulah Taman Remaja di Kota Bengkulu, yang sangat tenar di era 90-an.

    Menukar sedikit rupiah dengan karcis di zaman itu, kita sudah bisa memanjakan mata dengan melihat berbagai macam satwa. Memang pada zamannya, Taman Remaja menjadi salah satu tempat berlibur pilihan keluarga di akhir pekan, untuk menghilangkan dahaga refreshing. Apalagi di hari libur nasional, banyak juga wisatawan dari luar kota menghabiskan banyak karcis untuk mendengar suara teriakan satwa di sana. Atau cukup menghabiskan bensin kendaraan, untuk sekedar bercengkrama dengan patung gajah yang seperti nyata tadi.

    Telingaku berdenging panas, sekitar beberapa tahun yang lalu. Semenjak ada berita bahwa kebun binatang di Kota Bengkulu adalah kebun binatang yang terburuk di dunia, berselang beberapa bulan kemudian kebun binatang di dalam Taman Remaja ini langsung ditutup. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung-pun merelokasi sejumlah satwa dilindungi dari Taman Remaja ini, taman satwa di bawah pengelolaan Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bengkulu ke Taman Buru Semidang Bukit Kabu di Kabupaten Seluma.

    Pasca ditutup, Taman Remaja sempat sepi seperti kuburan. Juga mengurangi pedagang yang mengais rezeki di Taman Remaja. Kondisi Taman Remaja yang terletak di jantung Kota Bengkulu waktu itu, kian memperihatinkan. Selain tidak terurus, taman legendaris bagi masyarakat Bengkulu ini nampak berubah fungsi. Dari sebelumnya tempat wisata alam tengah kota, menjadi tempat berdagang kaki lima.

    Sempat terdengar tahun lalu, info yang menghangatkan hati. Ada investor nasional yang berminat berinvestasi di Taman Remaja ini. Bak melihat air di tengah gurun pasir. Secercah harapan, inginkan Taman Remaja seperti dulu lagi. Menjadi tempat liburan di akhir pekan. Apalagi, diberitakan perusahaan nasional tersebut, akan membangun banyak spot, diantaranya Mini Zoo, Mini Museum, Camping Ground, Playground, hingga hotel yang ramah lingkungan (Model Cubby House) serta beberapa spot instagramabel.

    Kini, Taman Remaja hanya menjadi salah satu tujuan wisata kuliner di Kota Bengkulu. Banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam jenis kuliner, dari pempek panggang, molen mini hingga es tebu. Berita investor tersebut hilang seperti ditelan bumi. Harapan tinggal harapan. Perjalanan panjang Taman Remaja selama puluhan tahun, tak membuat Taman Remaja menjadi tua. Sejak penulis kecil sampai dewasa, Taman Remaja tetaplah Taman Remaja.

    Penulis adalah wartawan muda yang juga anggota PWI Provinsi Bengkulu.

    Share:

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *